Memaknai Syukur Dalam Kehidupan
“Barangsiapa yang tidak mensyukuri nikmat maka bersiaplah
nikmat tersebut akan hilang, dan barangsiapa yang bersyukur maka sungguh ia
telah mengikat nikmat tersebut dengan sangat kokoh”. Untaian kalam hikmah
ratusan abad yang lalu yang diucapkan oleh Imam Ibnu ‘Ataillah as-Saqandari
kiranya masih begitu relevan untuk direnungkan dan dimaknai dalam kehidupan di
era sekarang. Hal ini bermakna bila seorang hamba ingin ditambahkan nikmat
untuk dirinya maka sepatutnya ia merenungi secara mendalam makna dan esensi
syukur.
Syukur begitu mudah untuk ditulis dan diucapkan
namun tidak semua orang mampu mengaplikasikan makna syukur dalam kehidupan.
Syukur oleh para ulama sering dimaknai dengan “ketetapan hati untuk selalu
mencintai Allah, konsistennya anggota tubuh untuk tunduk dan patuh, dan lisan
yang selalu menyebut-nyebut dan memuji Tuhannya”. Dari defenisi tersebut dapat
dikerucutkan bahwa syukur memiliki tiga pilar yang mesti ada pada diri manusia.
Pilar-pilar tersebut adalah; hati, badan dan lisan. Syukur tidak akan sempurna
tanpa gabungan ketiga pilar tersebut.
Pilar pertama adalah hati. Hati adalah muara
dari setiap inspirasi kebaikan. Seorang hamba yang mampu menata hatinya dengan
baik maka dapat dipastikan ia akan selamat di dunia dan akhirat. Bahkan
Rasulullah menganjurkan kita untuk sering-sering bertanya kepada hati kecil
karena ia lebih dekat kepada kebenaran. Hati yang senantiasa bersyukur,
meyakini bahwa setiap nikmat yang diperoleh merupakan pemberian dari Allah.
Hati yang percaya bahwa kesuksesan yang diraih bukan karena kepintaran dan
kehebatannya, namun merupakaan anugerah yang diberikan Allah.
Pilar kedua ada pada anggota badan. Manusia
merupakan ciptaan Allah yang sempurna, dianugerahi anggota tubuh yang sempurna.
Manusia memiliki mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, mulut untuk
berbicara, tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya. Dalam proses penciptaan
manusia dengan kesempurnaan tersebut tidaklah sia-sia. Allah memerintahkan
manusia untuk tunduk dan patuh menghambakan diri hanya kepada-Nya. Ini bermakna
bahwa seluruh anggota tubuh yang Allah titipkan merupakan amanah dari Allah.
Anggota tubuh tersebut harus dibawa untuk mentaati Allah dengan melakukan
amalan-amalan shalih. Namun sebaliknya bila tubuh dipergunakan pada perkara
yang dimurkai Allah, maka hamba tersebut tidak mensyukuri nikmat kesehatan
tubuhnya.
Pilar ketiga dalam bersyukur ada pada lisan.
Para ulama salaf selalu membiasakan diri mereka dengan mensyukuri nikmat dengan
lisan. Lisan digunakan untuk sering-sering menyebut nikmat dan pemberian Allah.
Lisan yang selalu berzikir, bersyukur terhadap berbagai nikmat yang digapai,
sehingga ia yakin bahwa pencapaian nikmatnya merupakan anugerah Allah yang
wajib disyukuri. Lisan yang bersyukur juga tertata dengan baik, berhati-hati
dalam setiap ucapan yang dikeluarkan sehingga tidak ada yang merasa tersakiti.
Lisan yang bersyukur adalah lisan yang terjaga dan terdidik hanya untuk
berkata-kata yang baik dan memberi nasehat sesama.
Tiga pilar di atas tidak bisa saling terpisah
karena bisa menimbulkan pemahaman syukur secara dangkal dan bahkan keliru.
Ketika hati, anggota badan dan lisan menyatu, maka yang akan muncul adalah
keindahan-keindahan dan rasa kemanusiaan yang tinggi. Hati yang bermuara di
dalamnya segala kebaikan pasti akan menampilkan ucapan-ucapan yang jujur dan
keluar dari hatinya sehingga pada tataran terakhir ucapan yang didengungkan
bukan hanya retorika belaka namun diejawantahkan dalam perbuatan dan sikap
antar sesama. Seseorang yang mampu mengaplikasikan ketiga pilar
tersebut adalah manusia yang sempurna sebagaimana dia telah diciptakan
dalam bentuk yang “paling sempurna”. Sepatutnyalah perpaduan tiga pilar
tersebut merupakan tugas dan kewajiban bersama demi memaknai syukur yang
sebenarnya.
Barangkali kita sempat membaca firman Allah
dalam surat Saba’ ayat lima belas. Dimana Allah Swt menggambarkan kepada kita
para hamba-Nya untuk mengambil pelajaran berharga dari tragisnya nasib kaum
Saba’. Kaum Saba’ dalam peta dunia terletak di daerah Negara Yaman sekarang.
Kaum Saba’ pada masanya dikenal sebagai Kaum yang makmur sentosa di bawah
kekuasaan seorang wanita yang dikenal dengan “Ratu Saba”. Kerajaan Saba’
dikenal memiliki peradaban yang hebat ketika itu, salah satu keajaiban yang
mereka miliki adalah “bendungan Ma’rib”. Sebuah bendungan raksasa yang
mengalirkan air ke berbagai pelosok wilayah mereka untuk mengirimkan kesuburan
kepada sawah dan ladang.
Kaum saba’ hidup dari pertanian karena negeri
mereka adalah negeri yang subur. Sehingga di dalam kitab-kitab tafsir
diceritakan bahwa saking makmur dan sentosanya mereka, seorang wanita hanya
meletakkan nampan/bakul di atas kepalanya dan melewati sebuah kebun maka di
ujung kebun nampan yang tadinya kosong sudah penuh terisi dengan buah-buahan.
Dan di wilayah Saba’ lalat, kutu busuk, kepinding, dan nyamuk tidak bisa hidup
karena cuaca mereka seperti di dalam AC. Dengan berbagai nikmat
yang sempurna, ternyata mereka telah lupa. Lupa bahwa nikmat yang mereka makan
dan mereka peroleh adalah karunia Allah. Mereka begitu “pede” dan yakin
bahwa setiap nikmat yang mereka peroleh adalah hasil jerih payah dan usaha
tangan mereka. Mata hati mereka telah buta dan tidak bisa berfikir dengan
normal. Karena hati mereka telah gelap, mereka tidak mengakui bahwa Allah lah
pemberi segala nikmat yang mereka nikmati.
Ketika Syukur tidak lagi menjadi sikap kaum
Saba’, maka di saat itulah Allah mengirim tentara-Nya berupa Air bah yang mirip
dengan Bencana Tsunami di Aceh. Air bah disebut dalam Al-Qur’an dengan sail
‘arim berhasil memporak-porandakan segala kehebatan yang mereka
miliki. Bendungan besar yang mereka bangga-banggakan dan menjadi sentral
kehidupan porak-poranda. “untung tak bisa diraih, malang tak bisa
ditolak”. Itulah ungkapan yang tepat untuk kaum Saba’ yang ditimpa
nestapa air bah. Yang lebih menyedihkan setelah terjadi banjir besar makanan
yang tumbuh dari sisa tumbuhan mereka menjadi pahit dan busuk.
Kisah kaum Saba’ bukanlah isapan jempol dan
dongeng perlipur lara, kisah tersebut telah dijelaskan oleh para ahli tafsir
secara mendetil dalam karya mereka (baca: Kitab Tafsir). Cerita pilu dan
nestapa kaum Saba’ sepatutnya menjadi cermin bagi kita untuk kembali menata
hati dan pikiran kearah yang lebih baik. Ada hikmah yang berharga dari kisah
tersebut, bahwa setiap nikmat yang diperoleh oleh setiap hamba Allah merupakan
karunia Allah. Jangan terlintas sama sekali bahwa nikmat yang sedang diperoleh
adalah hasil kerja keras tanpa melibatkan Allah di dalamnya. Karena pekerjaan
apapun yang dilakukan manusia tanpa ada ridha Allah di dalamnya akan sia-sia
dan tidak bermakna.
Terdapat berbagai ayat dalam Al-Qur’an yang
menganjurkan manusia untuk senantiasa bersyukur. Seseorang yang bersyukur
terhadap nikmat Allah maknanya ia sedang bersiap memperoleh tambahan nikmat
dari Allah. Demikian pula seseorang yang kufur nikmat, ia
tentu sedang menunggu petaka hadir dalam hidupannya. Syukur yang dilakukan
seorang hamba tidak menambaah keagungan Allah. Allah tidak membutuhkan pujian
dari kita, karena Allah maha kaya dan maha mulia. Segala syukur yang kita
utarakan adalah kembali kebaikannya bagi diri kita sendiri. “barangsiapa yang
bersyukur maka ia mensyukuri untuk dirinya”.
Dalam redaksi ayat yang lain Allah mengumpamakan
sebuah wilayah yang bersyukur dengan wilayah yang aman, makmur, damai, dan
sentosa. Namun di saat penduduk wilayah kufur kepada Allah, ketika itulah
berbagai bencana datang menimpa mereka. Di antara bencana terbesar yang
dihadapi sebuah wilayah yang tidak bersyukur adalah merebaknya ketakutan dan
kelaparan. Konflik yang panjang yang dihadapi oleh sebuah wilayah barangkali
penduduknya kurang bersyukur terhadap nikmat perdamaian dan kesejahteraan yang
telah ada. Ternyata rasa syukur penting untuk mengalirkan energi positif
terhadap kemajuan dan keamanan sebuah bangsa.
Bila seorang manusia mau sejenak berfikir dan
merenungi nasibnya ketika berada dalam kandungan ibunya, dan ketika ia
dilahirkan, dia tidak tahu apa-apa. Kemudian Allah menganugerahinya mata dan
telinga serta berbagai nikmat yang lain agar hatinya bersyukur. Nikmat mata
yang dimilikinya saja sungguh tidak mampu dihitung betapa mahal harganya.
Bahkan dalam sebuah kisah disebutkan bahwa salah seorang ahli Ibadah Bani
Israil yang beribadah dalam waktu yang lama, kemudian ia ingin menimbang pahala
ibadahnya tersebut dengan mata yang ia miliki, maka berbagai amalannya yang
banyak itu belum mampu membayar nikmat pengelihatan matanya. Belum dihitung
anggota tubuh yang lain yang sungguh tidak mampu dihargakan dengan hitungan
materi yang kita punya. Subhanallah.
Kita masih ingat beberapa waktu yang lalu bangsa
kita tercinta ditimpa oleh bencana kabut asap sehingga menimbulkan banyak
korban yang terkena berbagai penyakit pernapasan bahkan ada beberapa yang
meninggal. Penyebabnya hanya satu saja, ada orang yang tidak mensyukuri nikmat
Allah, hutan yang begitu luas yang telah Allah anugerahi kemudian dibakar untuk
mewujudkan keserakahan, sehingga udara yang tadinya bersih dan sehat tibab-tiba
tercemar karena unsur keserakahan dan ketamakan diri. Ketika rasa syukur telah
lenyap maka berbagai cobaan akan terus datang menghampiri kita.
Rasulullah Saw adalah figur paripurna yang telah
membumikan makna syukur dalam kehidupannya. Beliau telah memberi kita teladan
bagaimana mensyukuri nikmat Allah. Rasulullah mendirikan malam dengan
bermunajat kepada Allah sehingga diriwayatkan bahwa kaki beliau bengkak, Ummul
Mukminin Aisyah bertanya “untuk apa Engkau bersusah payah beribadah, padahal
Tuhanmu telah mengampuni setiap kekeliruanmu yang lalu dan yang akan datang?”,
Rasulullah menjawab “bukankah aku patut menjadi hamba Allah yang senantiasa
bersyukur”. Beliau juga meminta kepada Tuhannya untuk diberi sehari lapar dan
sehari kenyang agar di hari lapar dia bersabar dan di hari kenyang dia bisa
bersyukur.
Rasulullah saw juga figur pendidik terbaik.
Beliau mengajarkan kepada para sahabatnya untuk senantiasa memaknai syukur
dalam kehidupan. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah mengajarkan
kepada salah seorang sahabat belau Muaz bin Jabal untuk selalu membaca doa
setelah selesai shalat (Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa
husni ibadatika) artinya “ya Allah, bantulah hamba untuk mengingat dan
mensyukuri nikmatmu, serta karuniakan aku bagus/sempurna dalam beribadah
kepadamu”. Anjuran Rasulullah tersebut juga berlaku bagi kita para pengikutnya
agar senantiasa meneladani beliau dan amalan para sahabat-sahabatnya.
Bila di runut ke fase sebelum Rasulullah Saw
diutus, kita akan menemukan para Nabi juga memiliki inti ajaran yang dibawa
oleh Rasulullah, salah satunya mengenai bersyukur. Sebut saja Nabi Sulaiman
yang dikenal sebagai seorang raja yang menguasai hampir dua pertiga belahan
dunia, dimana ia bisa memahami berbagai bahasa termasuk bahasa binatang; semut,
burung Hud-hud dan lain-lain. Ia juga memiliki pasukan yang terdiri dari
manusia dan jin, bahkan raja jin yaitu ‘Ifrit juga termasuk pasukannya.
Mengenai kepatuhan jin kepada Nabi Sulaiman hanya dalam kepatuhan sebagai anak
buah dan majikan, tidak dalam keyakinan dan agama. Nabi Sulaiman juga dikenal
mampu pergi dari suatu tempat ke tempat lainnya sekejap mata dengan bantuan
para asistennya terutama Asif bin Barkhia; seorang pemuda yang mengusai ilmu di
atas rata-rata.
Dengan berbagai kelebihan yang dimiliki oleh
Nabi Sulaiman, ketika usia beliau menanjak 40 tahun, beliau berdoa kepada Allah
(Rabbi auzi‘ni an asykura nikmatakallati an‘amta ‘alayya wa ‘ala walidayya
wa an a‘mala shalihan tardhahu wa adkhilni birahmatika fi
‘Ibadikasshalihin) “Duhai Tuhanku, beri aku kekuatan untuk mensyukuri
nikmatmu yang telah Engkau anugerahi kepadaku, kedua orangtuaku, dan agar
amalanku Engkau terima, dan masukkan aku ke dalam golongan para hambamu yang
shalih”. Sebuah doa yang sarat dengan hikmah dan nilai keluhuran yang tinggi.
Usia 40 tahun merupakan fase beralihnya status seseorang dari seorang pemuda
menjadi seorang orang tua yang sering disebut oleh orang arab dengan “syekh”.
Singkatnya, betapa syukur adalah perbuatan yang mulia, dan menjadi muara setiap kebaikan yang akan digapai seorang hamba. Rasulullah adalah pribadi yang bersyukur, mengajarkan kepada para sahabatnya untuk selalu bersyukur. Demikian pula kita para pengikut beliau semestinya menerapkan syukur dalam kehidupan sehari-hari sehingga Allah mencintai kita, dan akan melimpahkan berbagai nikmat yang telah dipersiapkan untuk para hambanya yang bersyukur. Sehingga kota Banda Aceh yang kita harapkan menjadi Madani dan memiliki banyak prestasi bisa memaknai prestasi tersebut dalam rasa syukur yang mendalam sehingga prestasi lainpun akan terus muncul dan merasakan bahwa segalanya adalah anudgerah Allah semata.

Komentar
Posting Komentar