Meraih Kebeningan Hati
“Hati adalah
raja”. Sebuah ungkapan singkat dan bijak, namun memiliki arti yang mendalam
bagi kita umat Islam. Rasulullah Saw menjelaskan betapa hati memiliki peranan
penting dalam diri manusia, “apabila segumpal darah baik maka seluruh tubuhnya
baik dan apabila ia ternodai maka seluruh tubuhnya akan rusak, dia adalah
hati”. Hati juga merupakan tempat bersemayamnya segala kebaikan dan cahaya
keilmuan. Namun pada saat yang sama ia juga bisa sakit dan bervirus karena
terkena fitnah dan racun dunia.
Banyak orang
mengira bahwa tingkat kebahagiaan seseorang berada dalam harta yang melimpah
ruah, kedudukan yang tinggi, uang yang banyak, dan berbagai macam asumsi
lainnya. Ternyata setelah harta bertambah banyak, kedudukan bertambah tinggi,
ia pun belum meraih kebahagiaan yang dicarinya. Padahal kebahagiaan begitu
dekat, berada dalam diri kita, tempatnya di dalam lubuk hati. Dia tidak perlu
dicari kemana-mana, karena ia telah ada dalam diri tiap manusia yang disebut dengan
hati.
Tugas manusia
sebagai makhluk yang dianugerahi oleh Allah segumpal hati ialah menjaga, menata
dan melindungi hati dari berbagai penyakit yang bisa mengeruhkan kebeningan
hati. Hati yang bening merupakan lentera yang menyinari seseorang dalam meniti
kehidupan agar selamat dan sentosa ketika berjumpa dengan Allah Swt. Hamba yang
beruntung ialah hamba yang mampu meraih ridha dan kasih sayang Allah.
Seorang hamba
yang mampu menata hatinya dengan baik bermakna ia telah memiliki satu tiket
untuk mendapat tempat yang mulia di sisi Allah. Bagi hamba tersebut hidup di
dunia merupakan ladang untuk menanam sebanyak-banyaknya kebaikan agar bisa
dinikmati ketika di akhirat kelak. Ia melihat dunia dengan pandangan yang bijak
yaitu dengan menyiapkan bekal ketaqwaan dan segala kebaikan demi menempuh hidup
yang kekal dan abadi. Karena kelak di hari kiamat, tidak bermanfaat sama sekali
harta, anak-anak yang dibangga-banggakan, kecuali yang bermanfaat adalah qalbun
salim/hati yang bening.
Para ulama
membagi hati manusia ke dalam tiga pembagian, pertama, qalbun mayyit/hati
yang mati. Hati yang mati adalah hati yang tidak memiliki cahaya dan sama
sekali tidak ada kebaikan di dalamnya. Hati yang telah digerogoti oleh racun
dunia, tidak mampu membedakan antara kebaikan dan keburukan, haq dan bathil.
Kedua, qalbun maridh/hati yang sakit. Hati model ini adalah hati yang
masih memiliki potensi baik, walaupun ia juga telah terkena racun dunia dan
masih ada harapan sembuh jika ia mau berusaha menata hatinya kembali. Tipe hati
model ini yang umumnya dimiliki manusia. Dua model hati tersebut tidak akan
selamat di akhirat. Ketiga, qalbun salim/hati yang bening/sehat. Hanya
hati yang bening yang mampu menangkap setiap pesan-pesan Tuhan yang bertebaran
di semesta. Dan merupakan keniscayaan bagi kita agar berada pada model hati
yang ketiga.
Berbagai cara
dilakukan para ahli untuk mengupas metode dan cara untuk menggapai hati yang
sehat/bening. Ada yang memakai metode ceramah, mengajar, motivasi, nasehat dan
tulisan. Tentu dibutuhkan pemahaman yang mendasar mengenai faktor-faktor
penyebab hati bisa keruh, berpenyakit bahkan mati. Dan setelah kita mengetahui
berbagai penyebab penyakit hati, tentunya dijelaskan pula obat-obat yang
mujarab untuk menyembuhkan berbagai penyakit hati. Penyakit-penyakit hati telah
dibahas secara panjang lebar oleh para ulama dalam banyak karya mereka, sebut
saja misalnya Imam al-Ghazali dalam karyanya Ihya’ Ulumuddin, Imam Ibnu
‘Ataillah as-Saqandari dalam karyanya al-Hikam, Imam Ibnu Rajab dalam
karyanya Jami’ Ulum wal Hikam, Syekh Abdussamad al-Palimbani dalam
Hidayatussalikin dan Sirus Salikin, Buya Hamka dalam Tasauf
Modernnya, serta ratusan karya lainnya yang telah ditulis para ulama kita
tempo dulu.
Dalam kajian
para ulama tasawuf dapat disimpulkan bahwa penyebab yang mengotori kebeningan
hati bahkan merusaknya bermuara pada empat hal besar yang sangat
mempengaruhinya. Empat hal tersebut bila dijelaskan secara lebih luas akan
menjadi sepuluh macam penyakit yang umumnya dijelaskan dan dikupas dalam banyak
karya para ulama ahli tasawuf. Empat hal yang akan dijelaskan merupakan pintu
gerbang masuknya berbagai penyakit yang merusak dan mengganggu kebeningan hati.
Di antara empat hal itu adalah: banyak berbicara yang tidak penting, banyak
melihat nikmat yang dimiliki orang lain, banyak makan, dan banyak pergaulan.
Poin pertama
adalah banyak berbicara yang tidak penting. Berbicara disini bermakna bahwa
banyaknya ucapan yang kita keluarkan tanpa mengandung manfaat, bahkan terkadang
merusakkan dunia dan akhirat. Alangkah banyak ucapan yang keluar bukan pada
tempatnya akan berakibat fatal, dan mengganggu kenyamanan, baik dalam level
keluarga, bertetangga, bermasyarakat dan bahkan bernegara. Rasulullah
mengajarkan kita “bahwa iman seseorang tidak akan lurus sehingga hatinya lurus,
hatinya tidak akan lurus sehingga lisannya terjaga”. Jadi antara hati, iman dan
lisan memiliki keterkaitan yang kuat. Seseorang yang mampu mengatur lisannya
dengan baik maknanya ia telah memiliki kebaikan, paling tidak untuk dirinya
sendiri. Apatah lagi jika ucapan yang dia keluarkan adalah nasehat yang
berharga tentu akan lebih bermakna untuk teman dan sahabatnya. Makanya al-faruq
Umar bin Khattab mengatakan, “barangsiapa yang banyak bicaranya maka banyak
salahnya, barang siapa yang banyak salahnya banyak dosanya, barangsiapa yang
banyak dosanya maka neraka lebih baik untuknya”. Terkadang dalam kondisi
tertentu bicara bisa menjadi perak dan diam bisa menjadi emas.
Poin kedua,
penyebab yang bisa mengeruhkan hati adalah banyak melihat nikmat orang lain.
Mata merupakan gerbang kebaikan dan bisa pula menjadi gerbang kejahatan.
Seseorang yang selalu sibuk melihat nikmat-nikmat yang dimiliki orang lain
biasanya ia akan lupa bahwa dirinya juga memiliki banyak nikmat yang telah
Allah titipkan untuknya. Orang yang tidak mampu menjaga pandangan matanya tentu
tidak akan pernah merasa kemanisan iman di dalam hatinya. “pandangan mata
adalah panah beracun dari panah-panah iblis”, orang yang tidak mampu
menundukkan pandangannya, dia akan kurang bersyukur, merasa selalu miskin dan
merasa bahwa Tuhan itu tidak adil. Ketahuilah, bahwa para salafussalih
senantiasa memandang orang lain dengan tujuan untuk mengambil motivasi dalam
beramal shalih; baca Al-Qur’an, shalat dhuha, tahajud, bersedekah, dan amalan
salih lainnya, agar menjadi motivasi bagi mereka untuk berlomba-lomba dalam
kebaikan. Sangat berbeda dengan fenomena kita yang lebih melihat kepada nikmat
dunia yang dititipkan Tuhan kepada hamba yang lain baik itu harta maupun kedudukan.
Sungguh barometer antara kita dan para salafussalih sangat berbeda.
Poin ketiga,
penyakit hati timbul dari banyaknya makan. Rasulullah menegaskan bahwa betapa
buruk seseorang yang hanya memiliki orientasi adalah makanan. Perbedaan yang
sangat mendasar antara manusia yang dicipta dalam bentuk yang sempurna dan
makhluk lainnya yang diciptakan oleh Allah salah satunya pada makanan; kita
punya dua opsi, makan untuk hidup atau hidup untuk makan?, tentu kita memiliki
jawaban masing-masing. Yang pasti bahwa makanan yang telalu banyak di dalam
perut menyebabkan hati kita tumpul dan bahkan tidak mampu membaca kondisi
orang-orang lemah di sekitar kita. Semoga setiap makanan yang masuk ke dalam
rongga tubuh kita adalah makanan yang halal yang akan kengubah setiap protein
dan gizinya menjadi kebaikan yang mampu diaktualisakan dalam kehidupan.
Poin keempat
adalah terlalu banyak bergaul. Tidak ada yang salah dengan pergaulan, yang
keliru adalah ketika teman-teman yang kita miliki menyebabkan kita makin jauh
dari perintah Allah dan seruan Rasul-Nya. Ada waktu kita mesti sendiri,
merenungi, dan menata pikiran dan hati. Terkadang kita perlu duduk sejenak,
berfikir mengenai kaki yang telah jauh melangkah, dan segala tindak-tanduk yang
telah kita lakukan. Pergaulan yang tidak memiliki orientasi kebaikan di
dalamnya, hanya menghadirkan kerugian belaka; waktu ibadah tersita, hati yang
tadinya bening terus bergelora menggapai asa duniawi yang tak pernah usai.
Itulah empat
poin saripati yang terkandung dalam karya-karya para ulama tasawuf yang
membahas mengenai penyebab yang mempengaruhi kebeningan hati. Tentu rasanya
tidak sempurna bila penyakit-penyakit tersebut telah diketahui, namun kita
belum menemukan obat yang mujarab untuk mengobati penyakit di atas. Para ulama
tidak pernah meninggalkan kita larut dalam kebimbangan dan kegalauan. Mereka
memberikan beberapa resep manjur untuk kita yang datang setelah mereka. Di
antara resep manjur yang telah dipraktekkan oleh para ulama tempo dulu untuk
membersihkan hati agar menjadi bening adalah; berzikir, membaca Al-Qur’an,
istighfar, doa, selawat kepada Nabi saw, dan mendirikan malam.
Resep yang
paling utama untuk menggapai kebeningan hati adalah dengan memperbanyak zikir
kepada Allah. Zikir artinya mengingat Allah dalam berbagai kondisi kita; ketika
berdiri, duduk dan berbaring. Senantiasa mengingat Allah baik ketika kita
memiliki jabatan, tidak memiliki jabatan dan bahkan dalam kondisi terpuruk
sekalipun. Betapa banyak firman Allah yang mengajak kita untuk senantiasa
memperbanyak zikir dan ingat kepada Allah. Zikir bermakna begitu luas, bahkan
menuntut ilmu juga merupakan salah satu penafsiran zikir oleh para ulama
hadist. Zikir yang paling utama Adalah membaca Al-Qur’an, karena Allah menyukai
orang yang berzikir kepadanya dengan membaca kalam-Nya.
Al-Qur’an yang
terdiri dari 6666 ayat berdasarkan satu pandangan, merupakan obat mujarab
menjaga kebeningan hati. Ketika hati sedang gundah biasanya kita baru membaca
Al-Qur’an, dan kedamaian pun akan segera hadir. Namun ketika hati telah tenang,
maka Al-Qur’an pun hanya berfungsi sebagai pajangan atau bahkan hiasan ruang
tamu saja. Rasulullah menjelaskan bahwa membaca Al-Qur’an merupakan sarana
untuk menggapai syafa’at di akhirat kelak, dan merupakan sumber kebaikan dalam
setiap hurufnya. Allah menurunkan Al-Qur’an untuk menjadi obat bagi manusia.
Obat yang tidak
kalah mujarabnya adalah istighfar. Istighfar merupakan bukti pengakuan seorang
hamba kepada Tuhannya bahwa betapa setiap insan membutuhkan ampunan Tuhan.
Rasulullah menjelaskan bahwa di dalam istighfar terdapat solusi dalam setiap
masalah yang dihadapi. Bahkan Rasulullah sendiri dalam beberapa riwayat
menyebutkan beliau beristighfar sebanyak 70 kali, riwayat lain menyebutkan 100
kali. Istighfar bermakna permohonan ampun dari beban dosa yang memberatkan
pundak dan mengeruhkan suasana hati. Dengan beristighfar, karatan hati akan
sedikit demi sedikit dibersihkan hingga hati kembali bening.
Resep lainnya
adalah doa. Doa adalah senjata mukmin, saripati dari ibadat. Allah menyukai
para hamba-Nya yang senantiasa meminta dan berharap hanya kepada Nya. Allah
merasa malu apabila tidak mengabulkan permintaan hamba-Nya yang menengadahkan
tangan bermohon kepada-Nya. Bahkan Allah menjelaskan bahwa Ia begitu dekat
dengan hamba-Nya, lebih dekat dari urat leher, lebih dekat dari mata putih dan
mata hitam hamba-Nya. Ia dekat dan menerima setiap pinta hamba-Nya, karena Ia
maha kaya, dan tidak akan berkurang sedikitpun karunia-Nya.
Penyebab
kebeningan hati lainnya adalah dengan memperbanyak shalawat kepada Rasulullah.
Rasulullah menjelaskan bahwa siapapun dari ummatnya berselawat kepadanya maka
Allah akan berselawat kepada hamba tersebut, menganugerahkan karunia,
menunaikan kebutuhan, dan mengangkat gelisah dan beban hamba tersebut. Orang
yang dekat dengan Nabi kelak di hari akhirat salah satunya adalah umatnya yang
banyak berselawat kepada beliau.
Obat terakhir
untuk membeningkan hati ialah mendirikan malam. Malam begitu cepat berlalu jika
tidak dimanfaatkan dengan baik. Para salafussalih sangat gemar mendirikan
malam, bahkan mereka berlomba-lomba memperbanyak ibadat pada malam hari
terutama shalat tahajud seraya bermunajat kepada Allah. Dan hal pertama yang
Rasulullah ucapkan ketika beliau sampai
di Madinah adalah mendirikan malam ketika manusia sedang terlelap. Sungguh
karunia Allah begitu dekat dengan para hamba yang mau mendirikan malam. Hati
yang kotor bisa dibersihkan dengan mendirikan ibadah di malam hari. Bahkan
Allah memuji para hamba yang mendirikan malam, dan telah mempersiapkan untuk
mereka hadiah yang belum pernah mereka bayangkan. Malam merupakan kereta
terbaik seseorang untuk menuju kepada Tuhannya dalam keadaan damai.
Kiat-kiat yang telah disebutkan di atas merupakan teori normatif
yang membutuhkan aplikasi dari individu muslim dalam tatanan kehidupan
sehari-hari. Jika mampu menerapkan resep-resep tersebut, maka diharapkan
anugerah kebeningan hati akan datang menghampiri kita. Kebeningan hati
merupakan harapan kita semua. Hanya dengan hati yang bening kita mampu
menghadapi berbagai persoalan dan perbedaan yang terjadi dalam beragama dan
bernegara. Sebesar apapun persoalan yang dihadapi tidak akan mampu menggoyahkan
umat Islam, jika umat Islam mampu mengedepankan kebeningan hati dalam melihat
persoalan yang di hadapi.

Komentar
Posting Komentar